Minggu, 19 Februari 2017

Karakteristik Limbah Organik & Pengolahannya

MAKALAH
“KARAKTERISTIK LIMBAH ORGANIK & PENGOLAHANNYA”
Description: Description: Description: 1451222955622.jpg

Disusun Oleh       : Hanif Aziz Syafiq
NIM                     : 2041510008
PRODI                 : TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS INTERNASIONAL SEMEN INDONESIA
2017

Limbah Organik
Limbah organik merupakan jenis limbah yang berasal dari bahan organik baik tumbuhan maupun hewan. Limbah organik tergolong limbah yang mudah terurai melalui proses alami.
Limbah organik mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, daun-daunan kering, potongan-potongan kayu, dan sebagainya. Limbah organik terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga maupun kegiatan industri.
Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami. Limbah ini mempunyai sifat kimia yang stabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya. Limbah organik relatif lebih aman dibandingkan limbah anorganik dan limbah berbahaya. Bahkan sebagian dari limbah organik tersebut ada yang dapat dimanfaatkan secara langsung
Karakteristik Limbah Organik
·       Karakter Fisik
-         Bentuk zat
-         Suhu
-         Bau
-         Warna
-         Kekeruhan

·       Karakteristik Kimia
ü Bahan Organik
ü BOD ( Biologycal Oxygen Demand )
ü DO ( Dessolved Oxygen )
ü COD ( Chemical Oxygen Demand )
ü pH
ü Logam Berat

·       Karakteristik Biologi
ü Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air yang dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih.

Limbah Organik dari Sektor Pertanian
Limbah Pertanian diartikan sebagai bahan yang dibuang di sektor pertanian,misalnya sabut dan tempurung kelapa,jerami dan dedak padi, kulit.. Secara garis besar limbah pertanian itu dibagi ke dalam limbah pra dan Saat panen serta limbah pasca panen. Limbah pasca panen juga bisa terbagi dalam kelompok limbah sebelum diolah dan limbah setelah diolah atau limbah industri pertanian.
Limbah pertanian terbagi atas dua kelompok yaitu :
1.  limbah pertanian pra
limbah pertanian pra panen yaitu materi-materi biologi yang terkumpul sebelum atau sementara hasil utamanya diambil. Sebagai contoh daun, ranting, atau daun yang gugur sengaja atau tidak biasanya dikumpulkan sebagai sampah dan ditangani umumnya hanya dibakar saja.
2. Limbah pertanian panen
Limbah pertanian saat panen cukup banyak berlimpah. Golongan tanaman serealia misalnya yang populer di Indonesia antara lain batang atau jerami saat panen padi,  jagung, dan mungkin sorgum.
Limbah industri pertanian adalah buangan dari pabrik/industri pengolahan  hasil pertanian. Seperti industri-industri lainnya justru limbah ini yang banyak menimbulkan polusi lingkungan kalau tidak ditangani secara baik. Jenis industri ini juga cukup banyak. Untuk memudahkan penanganannya limbah industri pertanian ini bisa dikelompokkan berdasarkan komponen bahan bakunya, apakah limbah karbohidrat, protein atau lemak demikian juga bisa dikelompokkan berdasarkan fasanya yang terbesar apakah cairan atau padatan. Untuk penanganannya, limbah cair biasanya dikelompokkan lagi berdasarkan BOD (Biological Oxygen Demand)-nya.
Berdasarkan jenis  wujud limbah pertanian diklasifikasikan atas tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair dan limbah gas. Ketiga jenis limbah ini dapat dikeluarkan sekaligus oleh satu industri ataupun satu persatu sesuai dengan proses yang ada di industri pertanian.
1. Limbah Padat
Bahan-bahan buangan baik dari limbah pra panen, limbah panen, limbah pasca panen dan limbah industri pertanian yang wujudnya padat dikelompokkan pada limbah padat, contoh : Daun-daun kering, jerami, sabut dan tempurung kelapa. Jika limbah-limbah tersebut di atas kalau dibiarkan menumpuk saja tanpa penanganan tertentu akan menyebabkan/menimbulkan keadaan tidak higienis karena menarik serangga (lalat,kecoa) dan tikus yang seringkali merupakan pembawa berbagai jenis kuman penyakit.Limbah padat dapat diolah menjadi pupuk dan makanan ternak.
2. Limbah cair
Limbah cair industri pertanian sangat banyak karena air digunakan untuk :
1. membersihkan bahan pangan dan peralatan pengolahan.
2. menghanyutkan bahan-bahan yang tidak dikehendaki (kotoran).
Limbah cair yang berasal dari industri pertanian banyak mengandung       bahan bahan organik (karbohidrat, lemak dan protein) karena itu mudah sekali busuk dengan menimbulkan masalah polusi udara (bau) dan polusi air.

Sifat-sifat limbah cair dibedakan atas tiga kelompok yaitu :
1. sifat fisik misalnya suhu, pH, warna bau dan endapan.
2. sifat kimiawi misalnya adanya kandungan organik (karbohidrat,   protein,
    lemak dll) dan kandungan an organik (nitrogen, khlorida, fosfor dll).
      3. sifat biologis misalnya ada tidaknya mikroorganisme. Untuk
    Mengukur kadar bahan organik dari limbah cair biasanya
    dilakukan analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD
    (Chemical Oxygen Demand).
3.Limbah gas
Limbah gas adalah limbah berupa gas yang dikeluarkan pada saat pengolahan hasil-hasil pertanian, misalnya gas yang timbul berupa uap air pada proses pengurangan kadar air selama proses pelayuan teh dan proses pengeringannya. Limbah gas ini supaya tidak menimbulkan bahaya yang  harus disalurkan lewat cerobong.

PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN MENJADI PUPUK ORGANIK BOKASHI
Kata bokashi berasal dari bahasa jepang yang artinya kira-kira bahan-bahan organik yang sudah diuraikan (difermentasi). Pupuk bokasi merupakan salah satu bentuk pupuk organik yang terbuat dari campuran antara bahan-bahan organik dan pupuk kandang yang difermentasi atau didekomposisi oleh mikroorganisme. Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti sekam, serbuk gergajian, jerami, kotoran hewan dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut difermentasikan dengan bantuan mikroorganisme aktivator yang mempercepat proses fermentasi. Campuran mikroorganisme yang digunakan untuk mempercepat fermentasi dikenal sebagai effective microorganism (EM). Penggunaan EM tidak hanya mempercepat proses fermentasi tetapi juga menekan bau yang biasanya muncul pada proses penguraian bahan organik.                                                                                         



Manfaat Pupuk Organik Bokashi
1. Menggemburkan tanah.
2. Menghasilkan unsur hara mikro dan makro yang cepat terserap oleh perakaran tanaman.
3. Mencegah timbulnya jamur pada pupuk kandang dan tanah lingkungan  tanaman.
4. Merangsang pertumbuhan yang cepat dengan populasi maksimal.
5. Mengurangi penggunaan pupuk kimia 50% sampai 70%.
6.  Menekan populasi perkembangan hama atau bakteri patogen sehingga mengurangi penggunaan insektisida, pestisida maupun fungisida.
Limbah Organik Sektor Perikanan
KOLAGEN DARI LIMBAH SISIK IKAN SECARA EKSTRAKSI ENZIMATIS
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki potensi besar dibidang perikanan. Salah satu permasalahan yang timbul adalah belum tersedianya unit pengolahan limbah perikanan, khususnya untuk pengolahan kulit dan sisik ikan. Kulit dan sisik ikan merupakan salah satu sumber utama kolagen. Kolagen sendiri merupakan protein penghubung jaringan yang banyak digunakan sebagai aditif pada makanan, pharmacy dan kosmetik. Selama ini kebutuhan kolagen lebih banyak dipenuhi dari unggas. Seiring banyaknya penyakit yang ditemukan pada unggas, maka sumber kolagen dari kulit dan sisik ikan merupakan salah satu alternatif yang menjanjikan. Pembuatan kolagen dari sisik ikan dapat dilakukan melalui ekstraksi baik secara konvensional maupun secara enzimatis. Cara ekstraksi enzimatis ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan ekstraksi konvensional, diantaranya adalah tidak menggunakan solvent organik, sehingga dampaknya terhadap lingkungan minimal, kolagen yang dihasilkan aman untuk konsumsi manusia karena tidak mengandung bahan kimia, kualitas produk yang dihasilkan lebih tinggi serta yield yang lebih tinggi. Untuk proses ekstraksi enzimatis ini enzim yang digunakan adalah enzym protease yang berfungsi memecah protein.
Indonesia adalah negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya terdiri dari lautan serta memiliki garis pantai sepanjang ± 80.791,42 Km. Dengan luasnya wilayah perairan Indonesia maka pengembangan potensi kelautan dan perikanan menjadi salah satu sektor unggulan pemerintah. Departemen Perikanan dan Kelautan sendiri menargetkan pencapaian produksi perikanan Indonesia pada tahun 2009 mencapai 10 juta ton dari total potensi perikanan sebesar 65 juta ton (Tempo interaktif, Juni 2004). Meningkatnya produksi ikan akan diiringi pula peningkatan limbah ikan baik berupa kulit dan sisik ikan. Limbah dari sektor perikanan selain dihasilkan oleh TPI juga dihasilkan oleh industri-indusrti kecil yang bergerak dibidang pengasapan ikan, presto ikan, terasi dan ikan asin. Saat ini belum ada upaya untuk mengolah lebih lanjut limbah kelautan dan perikanan yang berupa kulit dan sisik ikan. Limbah kulit dan sisik ikan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kolagen. Kolagen merupakan protein penghubung jaringan yang banyak dijumpai pada hewan. Kolagen memiliki berbagai kegunaan diantaranya sebagai bahan additif pada industri makanan, pharmacy, kosmetik dan industri photograpy. Kolagen adalah komponen utama lapisan kulit dermis (bagian bawah epidermis) yang dibuat oleh sel fibroblast. Pada dasarnya kolagen adalah senyawa protein rantai panjang yang tersusun lagi atas asam amino alanin, arginin, lisin, glisin, prolin, serta hiroksiproline. Sebelum menjadi kolagen, terlebih dahulu terbentuk pro kolagen.
Kolagen merupakan protein penting yang menghubungkan sel dengan sel yang lain. Sepertiga dari protein yang terkandung dalam tubuh manusia terdiri dari kolagen. Fungsi dari kolagen pada tubuh berbeda-beda tergantung pada lokasinya. Namun demikian, kolagen sangat diperlukan dalam menjaga kemuda-an dan kesehatan Adapun kegunaan kolagen diantaranya adalah:
ü Suplemen makanan
ü Kosmetik :Beauty masks, skin lotions
and creams, etc.
ü Makanan : sebagai aditif pada makanan
dan minuman ringan
ü Kegunaan yang lebih beragam (dapat
digunakan dalam industri makanan)
Bahan baku murah (limbah)
Sebagai negara yang terus menggalakkan potensi perikanan, pengolahan limbah kulit dan sisik ikan menjadi kolagen memberikan dua keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah pemecahan masalah limbah perikanan. Sedangkan keuntungan kedua adalah pemenuhan kebutuhan kolagen dalam negeri untuk penghematan devisa. Bahkan jika pengolahan limbah ini dapat dilakukan secara optimal, maka Indonesia mungkin akan menjadi salah satu negara pengekspor kolagen. Proses produksi kolagen dari kulit dan sisik ikan dapat dilakukan melalui proses ekstraksi secara konvensional dengan menggunakan solvent maupun ekstraksi secara enzymatis. Ekstraksi adalah suatu metoda operasi yang digunakan dalam proses pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan sejumlah massa bahan (Solven) sebagai materi pemisah. Apabila komponen yang akan dipisahkan (Solute) berada dalam fasa padat, maka proses tersebut dinamakan pelindihan atau Leaching. Sedangkan istilah Ekstraksi umum dipakai jika solute berada dalam fasa cair.
Ekstraksi Konvensional Secara sederhana proses pemisahan dengan cara ekstraksi terdiri dari tiga langkah dasar: 1. Proses penyampuran pelarut dan umpan. 2. Proses perpindahan massa dari umpan ke pelarut. 3. Proses pemisahan fasa, antara ekstrak dan rafinat. Sebagai zat pemisah, solven harus dipilih sedemikian hingga kelarutannya terhadap komponen selain solut (diluen) adalah terbatas atau bahkan sama sekali tidak saling melarutkan. Karenanya, dalam proses ekstraksi akan terbentuk dua fasa cairan yang saling bersinggungan dan selalu mengadakan kontak. Fasa yang banyak mengandung diluen disebut fasa rafinat (R) sedang fasa yang banyak mengandung solven disebut fasa ekstrak (E). Proses ekstraksi padat-cair dipengaruhi oleh pelarut, temperatur, ukuran bahan dan waktu pengontakan, sedangkan tekanan tidak berpengaruh. Pada ekstraksi konvensional, biasanya digunakan senyawa organik sebagai solvent. Cara ini memiliki kelemahan yaitu penggunaan zat kimia yang dapat merugikan lingkungan serta adanya kemungkinan sisa bahan kimia dalam produk. Ekstraksi Enzimatis Ekstraksi enzimatis pada prinsipnya sama dengan ekstraksi konvensional. Hanya saja disini digunakan enzim yang berfungsi mengambil zat yang akan diekstrak. Dengan demikian tidak diperlukan lagi pelarut khusus (solvent) dalam proses ekstraksi. Pelarut yang biasanya ditambahkan dalam ekstraksi enzimatis adalah air. Cara ekstraksi enzimatis ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan ekstraksi konvensional, diantaranya :
o   Tidak menggunakan solvent organik, sehingga dampaknya terhadap lingkungan minimal
o   Kolagen yang dihasilkan aman untuk konsumsi manusia karena tidak mengandung bahan kimia
o   Kualitas produk dan yield yang dihasilkan lebih tinggi
Pada ekstraksi enzimatis, digunakan enzim yang berfungsi memecah protein. Enzim protease adalah enzim yang berfungsi memecah protein dengan cara menghidrolisa ikatan peptida yang menghubungkan asam –asam amino dalam rantai polipeptida. Enzim protease berada secara alami di semua makhluk hidup. Dalam tubuh manusia, enzim ini berfungsi pada berbagai proses tubuh mulai dari proses sederhana seperti pencernaan protein sampai pada proses tubuh yang rumit seperti pembekuan aliran darah Kelompok enzim protease memecah protein dengan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan merusak asam amino yang berada di ujung rantai sedangkan cara kedua dengan merusak ikatan peptida yang ada di dalam protein.
Daftar Pustaka :
Gudmundsson,M.,2002.”Rheological properties of fish gelatins”. J.Food
Mita, W, 2008, “Perbaikan Daya Saing Industri Perikanan Melalui Pemanfaatan Limbah Non Ekonomis Ikan Menjadi Gelatin”,
LIMBAH Organik Sektor Perhutanan
Produksi kayu bulat dari HT menjadi 150 juta m3, HA menjadi 50 juta m3, dan HR sebesar 100 juta m3 a. Potensi ril limbah untuk limbah pembalakan = 12,5 juta m3 b. Potensi ril limbah penggergajian = 125 juta m3 2. Limbah tersebut akan lapuk selama 10-20 tahun tergantung berat jenis kayu dan akan menghasilkan emisi CO2 sebesar 57,3 juta ton untuk limbah penggergajian dan 5,73 juta ton untuk limbah pembalakan.
Prosesnya yaitu Dibakar pada suhu tinggi dengan oksigen terbatas selama beberapa jam, tergantung jenis material sehingga menjadi arang.


Aplikasinya :
·        Arang dapat berfungsi sebagai pembangun kesuburan tanah
·        Penggunaan arang dapat meningkatkan bakteri tanah dan bakteri pengikat nitrogen
·        Penggunaan 25% arang serbuk gergaji pada media pada tanaman Eucalyptus citriodora dapat meningkatkan pertumbuhan 2-3x
·        Penggunaan arang 25% arang serbuk gergaji juga dapat memacu pertumbuhan seedling Acacia mangium dan meningkatkan jumlah serabut akar

Limbah Organik Sektor Peternakan
limbah ternak untuk menghasilkan kompos
Kotoran dan air kencing merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dalam pemeliharaan ternak selain limbah yang berupa sisa pakan. Pada umumnya setiap kilogram daging sapi yang dihasilkan ternak sapi potong juga menghasilkan 25 kg kotoran padat.Besarnya limbah padat yang dihasilkan dari usaha penggemukan sapi potong berpotensi dimanfaatkan menjadi sumber kompos dan berpotensi untuk dijadikan sumber pendapatan tambahan dari usaha penggemukan sapi potong. Sebagai contoh, untuk penggemukan dengan target pertambahan berat badan harian (PBBH) sebesar 0,5 kg akan dihasilkan sebanyak 12,5 kg kotoran per hari. Jika target penggemukan adalah pertambahan berat badan sebesar 90 kg dalam satu periode penggemukan selama 6 bulan akan dihasilkan kotoran sebanyak 2,2 ton dari seekor ternak setiap satu periode penggemukan. Jika kotoran ternak dan sisa pakan diproses menjadi kompos maka setidaknya dari setiap ekor sapi penggemukan dapat dihasilkan 1,5 ton kompos per 6 bulan.
Pengomposan merupakan proses biodegradasi bahan organik menjadi kompos dimana proses dekomposisi atau penguraian dilakukan oleh bakteri, yeast dan jamur. Untuk mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan limbah organik menjadi pupuk organik yang siap dimanfaatkan oleh tanaman dilakukan proses penguraian secara artifisial. Kotoran ternak sapi dapat dijadikan bahan utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan nitrogen, potassium dan materi serat yang tinggi. Kotoran ternak ini perlu penambahan bahan-bahan seperti serbuk
gergaji, abu, kapur dan bahan lain yang mempunyai kandungan serat yang tinggi untuk memberikan suplai nutrisi yang seimbang pada mikroba pengurai sehingga selain proses dekomposisi dapat berjalan lebih cepat juga dapat dihasilkan kompos yang berkualitas tinggi.
limbah ternak untuk menghasilkan biogas
Sapi Bali dewasa yang dikandangkan menghasilkan kotoran segar sebanyak 6 sampai 8 kg/hari. Kotoran tersebut dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan kemudian limbah padatnya masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Gas bio merupakan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi tertutup bahan-bahan organik termasuk kotoran ternak. Fermentasi tertutup dapat berlangsung jika kotoran dimasukkan dalam satu tempat tertutup yang disebut reaktor. Untuk skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor atau suplai kotoran sebanyak kurang lebih 25 kg/hari cukup menggunakan tabung reaktor berkapasitas 2500 – 5000 liter yang dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak tanah/hari dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga. Jika harga eceran minyak tanah Rp. 3.500/liter maka penggunaan biogas dapat mengurangi biaya rumah tangga sebesar Rp 2.500.000/tahun. Satu reaktor biogas kapasitas 2500 liter membutuhkan biaya Rp. 3.500.000 dengan umur penggunaan berkisar 10 tahun. Dengan demikian penggunaan biogas secara nyata menurunkan biaya rumah tangga tani untuk membeli minyak tanah.
KOMPOS
Kompos adalah pupuk organik yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari limbah/sisa tanaman, kotoran hewan atau manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan humus yang telah mengalami dekomposisi. Kompos dari sisa/limbah tanaman maupun limbah ternak mengandung unsur hara baik mikro maupun makro yang lengkap (N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Zn,Mn, B dan S).
Manfaat penggunaan kompos terhadap tanah menambah kesuburan tanah,memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan gembur, memperbaiki sifat kimiawi tanah sehingga unsur hara yang tersedia dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman, memperbaiki tata air dan udara di dalam tanah sehingga suhu tanah akan lebih stabil, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara sehingga tidak mudah larut oleh air hujan atau air pengairan dan memperbaikikehidupan jasat renik yang hidup di dalam tanah

Prinsip dekomposisi dalam pembuatan kompos
Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses dekomposisi atau penguraian yang merubah limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktifitasbiologis pada kondisi yang terkontrol.
Dekomposisi pada prinsipnya adalah menurunkan karbon dan nitrogen (C/N) ratio dari limbah organiksehingga pupuk organik dapat segera dimanfaatkan oleh tanaman. Pada proses dekomposisi akan terjadi peningkatan temperatur yang dapat berfungsi untuk membunuh biji tanaman liar (gulma), bakteri-bakteri patogen dan membentuk suatu produk perombakan yang seragam berupa pupuk organik.
Beberapa unsur penting yang diperlukan agar proses penguraian dapat berjalan dengan baik yaitu; 1). Karbon (C) sebagai sumber energi bagi mikroba pengurai dan. akan diurai melalui proses oksidasi yang menghasilkan panas; 2). Nitrogen (N) sebagai sumber protein bagi bakteri untuk bertumbuh dan memperbanyak diri; 3). Oksigen (O) sebagai bahan untuk mengoksidasi unsur karbon melalui proses dekomposisi dan air (H2O) untuk menjamin proses dekomposisi berlangsung baik dan tidak menyebabkaN suasana anaerob.


Tabel 1. Faktor berpengaruh dan kisaran toleransi unsur dalam bahan kompos untuk menjamin terjadinya proses pengomposan

No
Faktor
Kisaran
1.
Temperature
54-600C
2.
Ratio carbon ke nitrogen (C/N)
25:1 – 30:1
3.
Aerasi, persen oksigen
>5%
4.
Kelembaban/kadar air
50-60%
5.
Porositas
30-36%
6.
pH
6.5-7.5

Faktor berpengaruh yang harus dikontrol dalam pembuatan kompos:
1. C/N ratio; mikroba membutuhkan karbon (C) 20 sampai 25 kali lebih banyak dari nitrogen (N) untuk tetap aktif. Sumber karbon pada pembuatan kompos dapat berasal dari potongan kayu kecil, serbuk gergaji, jerami padi dan bahan lain yang berserat tinggi. Sumber N berasal dari kotoran ternak. C/ N ratio > 25 akan menyebabkan dekomposisi berjalan lamban karena kekurangan N sebaliknya C/N ratio < 20 akan menyebabkan terjadinya pembentukan gas ammonia sehingga menimbulkan bau.
2. Aerasi udara diperlukan untuk menghindari terjadinya kondisi anaerobic yang menimbulkan bau. Pembalikan secara teratur dapat meningkatkan aerasi. Kekurangan udara akan menimbulkan gas metan, aktivitas mikroba menurun dan temperatur menurun. Sebaliknya kelebihan aerasi menyebabkan bahan kompos menjadi kering dan unsur N menghilang.
3. Kelembapan merupakan unsur penting dalam metabolisma pada mikroba. Kelembapan yang baik adalah 50-60%, terlalu basah (>60%) dapat mengakibatkan muncul bau yang tidak sedap dan aktivitas mikroba menurun, temperatur juga menurun dan jika terlalu kering (<40%) aktivitas mikroba juga menurun.





memanfaatkan kotoran ternak dan sisa-sisa pakan untuk dijadikan pupuk kompos antara lain:
1. Kandang menjadi lebih bersih
2. Kotoran yang dikumpulkan mengurangi pencemaran lingkungan
3. Mengurangi populasi lalat di sekitar kandang
4. Mengurangi terjadinya infeksi cacing mata (Thelazia) yang sering menyerang ternak
5. Pembuatan kompos dapat dilakukan secara alamiah atau menggunakan dekomposer
6. Secara langsung kompos digunakan untuk lahan pertanian atau dapat dijual Beberapa syarat yang perlu diperhatikan mengenai

tempat pembuatan kompos yaitu:
1. Lantai lebih tinggi dari sekitarnya untuk menghindari genangan air
2. Memiliki atap untuk mengindari sinar matahari langsung atau hujan

Cara pembuatan kompos
Bahan yang diperlukan :
● Kotoran sapi 80 – 83%
● Serbuk gergaji 5%
● Abu sekam 10%
● Kalsit/Kapur 2%
● Dekomposer 0,25%

Proses Pembuatan
1. Kotoran sapi dikumpulkan dan ditiriskan selama satu minggu untuk mengurangi kadar air (± 60%)
2. Kotoran sapi yang sudah ditiriskan kemudian dicampur dengan bahan-bahan organik seperti ampas gergaji, abu sekam, kapur dan dekomposer. Seluruh bahan dicampur dan diaduk merata.
3. Setelah seminggu tumpukan dibalik/diaduk merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu sampai 600C, dibiarkan lagi selama seminggu dan dibalik setiap minggu
4. Pada minggu keempat kompos telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah tak berbau, untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan (misalnya batu, potongan kayu,
rafia) maka pupuk diayak/disaring
5. Selanjutnya kompos siap untuk diaplikasikan pada lahan atau tanaman.


Biogas dan Aplikasinya
Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerobik.Pada umumnya biogas terdiri atas gas metan (CH4) sebesar 50-70%, gas karbon dioksida (CO2) sebesar 30-40%, Hidrogen 5 – 10% dan gas-gas lainnya dalam jumlah yangsedikit.
Untuk memanfaatkan kotoran ternak menjadi biogas, diperlukan beberapa syarat yang terkait dengan aspek teknis, infrastruktur, manajemen dan sumber daya
manusia. Bila faktor tersebut dapat dipenuhi, maka pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas sebagai penyedia energi di pedesaan dapat berjalan dengan
optimal.
Terdapat sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi optimasi pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas yaitu:
1. Ketersediaan ternak
Jenis, jumlah dan sebaran ternak di suatu daerah dapat menjadi potensi bagi pengembangan biogas. Hal ini karena biogas dijalankan dengan memanfaatkan
kotoran ternak. Untuk menjalankan biogas skala individual atau rumah tangga diperlukan kotoran ternak dari 2 – 4 ekor sapi dewasa.
2. Kepemilikan ternak
Jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak menjadidasar pemilihan jenis dan kapasitas biogas yang dapat digunakan. Bila ternak sapi dewasa yang dimiliki lebih
dari 4 ekor , maka dapat dipilih biogas dengan kapasitas yang lebih besar (berbahan fiber atau semen) atau beberapa biogas skala rumah tangga.
3. Pola pemeliharaan ternak
Ketersediaan kotoran ternak perlu dijaga agar biogas dapat berfungsi optimal. Kotoran ternak lebih mudah didapatkan bila ternak dipelihara dengan cara  dikandangkan dibandingkan dengan cara digembalakan.
4. Ketersediaan lahan
Untuk membangun biogas diperlukan lahan di sekitar kandang yang luasannya bergantung pada jenis dan kapasitas biogas. Lahan yang dibutuhkan untuk membangun reaktor biogas skala terkecil (skala rumah tangga) adalah 14 m2 (7m x 2m).
5. Tenaga kerja
Untuk mengoperasikan biogas diperlukan tenaga kerja yang berasal dari peternak/pengelola itu sendiri. Hal ini penting mengingat biogas dapat berfungsi optimal bila pengisian kotoran ke dalam reaktor dilakukan dengan baik serta dilakukan perawatan peralatannya. Banyak kasus mengenai tidak beroperasinya atau tidak optimalnya biogas disebabkan karena: pertama, tidak adanya tenaga kerja yang menangani unit tersebut; kedua, peternak/pengelola tidak memiliki waktu untuk melakukan pengisian kotoran karena memiliki pekerjaan lain selain memelihara ternak.


6. Manajemen limbah/kotoran
Manajemen limbah/kotoran terkait dengan penentuan komposisi padat-cair kotoran ternak yang sesuai untuk menghasilkan biogas, frekuensi pemasukan kotoran, dan pengangkutan atau pengaliran kotoran ternak ke dalam reaktor. Baha baku reaktor biogas adalah kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1:3. Frekuensi pemasukan kotoran dilakukan setiap satu atau dua hari sekali. Pemasukan kotoran ini dapat dilakukan dengan cara diangkut atau melalui saluran.
7. Kebutuhan energi
Sumber energi dari biogas dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan jika ketersediaan sumber energi lain terbatas. Bila sumber energi lain tersedia maka peternak dapat diarahkan untuk mengolah kotoran ternaknya menjadi kompos.
8. Jarak (antara kandang reaktor dan rumah)
Agar pemanfaatan energi biogas dapat optimal sebaiknya antara kandang, reaktor dan rumah tidak telampau jauh.
9. Pengelolaan hasil samping biogas
Pengelolaan hasil samping biogas ditujukan untuk memanfaatkannya menjadi pupuk cair dan pupuk padat (kompos).
10. Sarana Pendukung
Sarana pendukung berupa peralatan kerja digunakan untuk mempermudah/meringankan pekerjaan/perawatan instalasi biogas. Selain sepuluh faktor di atas, kemauan peternak/pelaku untuk, menjalankan instalasi biogas dan merawatnya serta memanfaatkan energi biogas menjadi modal utama dalam pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas.
Daftar Pustaka :
Ni Nyoman Santi, 2010. Pemanfaatan Kotoran Ternak Skala
Rumah Tangga Sebagai Sumber Energi Alternatif
Biogas.
Eddy Nurtjahya dkk, 2003. Pemanfaatan Limbah Ternak
Ruminansia Untuk Mengurangi Pencemaran
Lingkungan. Makalah Pengantar Falsafah Sains.
Program Pasca Sarjana/S3 Institut Pertanian Bogor.

Limbah Organik Sektor Perkebunan

LIMBAH INDUSTRI KELAPA SAWIT Proses pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO) menghasilkan biomassa produk samping yang jumlahnya sangat besar . Tahun 2004 volume produk samping sawit sebesar 12 .365 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS), 10.215 juta ton cangkang dan serat, dan 32.257 - 37 .633 juta ton limbah cair (Palm Oil Mill E„r luent/POME) . Jumlah ini akan terus meningkat dengan meningkatnya produksi TBS Indonesia . Produksi TBS Indonesia di tahun 2004 mencapai 53 .762 juta ton dan pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 64 .000 juta ton . Disamping itu usaha budidaya kelapa sawit, selain hasil pokok CPO dan Inti Sawit, masih terdapat sejumlah hasil samping dan limbah seperti : pelepah, daun, bungkil, lumpur dan lain-lain . Limbah dari industri kelapa sawit meliputi padatan, cair dan gas . Pasir atau tanah dari perkebunan, tandan buah, ampas, kulit kering batok/cangkang serta lumpur dari kolam pengolah limbah cair merupakan bentuk limbah padatan. Sedangkan limbah cair berasal dari pengembunan uap air .
LIMBAH KELAPA SAWIT SEBAGAI SUMBER PUPUK ORGANIK
 Volume limbah padat di perkebunan kelapa sawit cukup besar, berasal dari daun, pelepah, dan tandan, sehingga membutuhkan curahan tenaga kerja yang cukup banyak dan memerlukan biaya transportasi untuk penanganannya. Untuk membantu menutup biaya yang diperlukan dalam penanganan limbah padat di kebun kelapa sawit, telah dirancang teknologi pengolahan limbah padat menjadi kompos yang merupakan bahan bemilai ekonomi yang lebih kecil biaya transportasinya . Kompos dari tandan kosong kelapa sawit Teknologi produksi kompos dari tandan kosong sawit (TKS) merupakan satu teknologi pengolahan limbah yang sekaligus dapat mengatasi masalah limbah padat dan limbah cair di PKS. Penerapan teknologi ini memungkinkan PKS untuk menerapkan konsep zero waste yang berarti tidak ada lagi limbah padat dan cair yang dibuang. Proses pengomposan TKS dimulai dengan pencacahan TKS dengan mesin pencacah . TKS yang telah dicacah ditumpuk di atas lantai semen pada udara terbuka atau di bawah atap . Tumpukan dibalik 3 - 5 kali seminggu dengan mesin pembalik BAKHUS dan disiram dengan 8 5 Tahun Luas Areal ( .000 Ha) PR PBN PBS Nasional 2006 2 .017 702 3 .254 5 .973 2007 2 .337 727 3 .449 6 .513 2008 2 .657 752 3 .644 7 .053 2009 2 .997 777 3 .839 7 .593 2010 3 .292 802 3 .929 8 .023 2015 3 .792 927 4 .289 9 .008 2020 3 .792 927 4 .289 9.008 2025 3 .792 927 4 .289 9.008 %Tahun 3,4 1,5 1,5 2,2 8 6 Seminar Oprimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawil dan Indusiri Olahannya sebagai Pakan Ternak limbah cair PKS . Pada akhir pengomposan yang berlangsung selama 6-8 minggu, kompos diayak dan dikemas . Total biaya investasi produksi kompos dari TKS berkisar Rp . 4 miliar untuk PKS dengan kapasita 30 ton TBS/jam . Dengan asumsi produksi kompos per hari 60 ton, maka biaya produksi kompos adalah Rp . 150/kg. Dengan harga jual kompos bulk Rp. 400/kg, keuntungan langsung yang diperoleh sebesar Rp. 366/kg atau sekitar Rp . 2,28 miliar/tahun sebelum pajak . Pemerintah Kabupaten Paser Kalimantan Timur saat ini telah merencanakan pembuatan pupuk organik dari jakos dan Palm oil mill efluent (POME) atau limbah cair menjadi pupuk organik . Aplikasi tehnologi ini baru pertama kali yang akan diterapkan di Indonesia (KALTIM POST, 29 Juni 2007) . Manfaat pembuatan pupuk organik ini bagi daerah, antara lain meningkatkan pendapatan daerah, dan petani akan memperoleh tambahan hasil . Juga membuka lapangan kerja baru dan ikut memelihara lingkungan. Di Riau telah juga dibuat kompos dari limbah kelapa sawit . Kompos dari bahan sawit ini telah diproduksi menjadi komplet-vit (pelet) .
LIMBAH KELAPA SAWIT SEBAGAI SUMBER PAKAN ALTERNATIF
 Pakan sebagai komponen utama peternakan Keberhasilan pengembangan peternakan sangat ditentukan oleh penyediaan pakan ternak (DJAENUDIN, et al ., 1996) . Ketersediaan pakan akan menentukan keberlanjutan usaha peternakan pada suatu wilayah . Di Indonesia sumber pakan ternak ruminansia cukup banyak variasinya, antara lain dari pelepah sawit, dan bungkil sawit . Sumber pakan dari padang penggembalaan sering menghadapi masalah karena adanya persaingan dalam penggunaan lahan . Di masa depan industri pakan ternak sebaiknya lebih diarahkan untuk pemanfaatan limbah, seperti limbah dari kelapa sawit . Bahan pakan limbah perkebunan kelapa sawit dapat berasal dari bungkil inti sawit, solid, dan pelepah serta daun . Dalam sistem produksi peternakan, disamping kualitas bibit, pakan merupakan komponen utama yang menentukan tingkat produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan, baik ditinjau dari segi teknis maupun ekonomis. Dalam berbagai literatur disebutkan, dua faktor penting yang menentukan produktivitas peternakan, yaitu genetik dan lingkungan, dengan tingkat Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak perbandingan 30/70 persen . Dengan kata lain, faktor lingkungan lebih dominan. Dari 70 persen faktor lingkungan itu, lebih dua pertiganya adalah faktor pakan, yang merupakan salah satu kendala dalam pengembangan peternakan di negeri kita . Dari segi teknis, kualitas pakan dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan ternak dalam mencapai tingkat produktivitas yang diharapkan, tanpa adanya gangguan kesehatan hewan untuk keragaan yang optimal . Sedangkan dari segi ekonomis, biaya pakan merupakan komponen biaya tertinggi (60-70%).

Lumpur sawit sebagai pakan ternak
Sampai saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan pakan dalam negeri . Jumlah impor ini terus meningkat sesuai dengan peningkatan kebutuhan akan produk peternakan. Di lain pihak, Indonesia memiliki bahan pakan lokal yang belum lazim dimanfaatkan . Salah satu diantaranya adalah lumpur sawit yang merupakan limbah pengolahan minyak sawit . Pada tahun 2001, produksi lumpur sawit (kering) diperkirakan sebanyak 632.570 ton dan jumlah ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan produksi minyak sawit (SINURAT, 2003). Lumpur sawit merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pemerasan buah sawit untuk menghasilkan minyak sawit kasar atau 8 7 Uraian Kisaran Bahan kering, % 90 Kecemaan BK pada ayam, % 24,5 Lemak kasar, % 10,4 Serat kasar, % 11,5-32,9 ADF, % 44,29 NDF, % 62,77 Energi kasar (GE), Kkal/kg 3315-4470 EM (TME), Kkalkg 1125-1593 Protein kasar, % 9,6-14,52 Protein sejati, % 8,9-10,44 Asam amino, Threonin 0,33-0,78 Alanine 0,41-0,56 Sistin 0,12-0,13 Valine 0,36-0,48 Metionin 0,14-0,16 Isoleusin 0,35 Leusin 0,52-0,60 Fenilalanin 0,21 Lisin 0,21-0,31 Arginin 0,19-0,21 Abu, % 9-25 Kalsium (Ca), % 0,50-0,97 Fosfor (P), % 0,17-0,75 Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan industri Olahannya sebagai Pakan Ternak crude palm oil (CPO). Jumlah produksi lumpur sawit sangat tergantung dari jumlah buah sawit yang diolah. Menurut DEVENDRA (1978), lumpur sawit (setara kering) akan dihasilkan sebanyak 2% dari tandan buah segar atau sekitar 10% dari minyak sawit kasar yang dihasilkan.

POTENSI PRODUK LIMBAH KELAPA SAWIT Manfaat perkebunan kelapa sawit yang sudah banyak dirasakan oleh peternak ruminansia, terutama adalah potensi hijauan yang tumbuh sebagai gulma di areal tanaman sawit . Yang tidak kalah pentingnya adalah adanya . limbah dan hasil ikutan industri pengolahan tandan buah sawit yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia yaitu : solid decanter, bungkil inti sawit atau PKC (Palm Kernel Cake), sabut sawit atau PPF (Palm Press Fiber) dan lumpur sawit atau POS (Palm Oil Sludge) kering (DAVENDRA, 1977 ; SUTARDI, 1997 ; SIANIPAR el al., 1998) . Limbah solid sawit sebagai pakan ternak Bahan pakan limbah perkebunan kelapa sawit dapat berasal dari bungkil Inti Sawit, solid, dan pelepah serta daun . Dari hasil kajian memberikan bukti nyata bahwa bahan pakan limbah kelapa sawit (solid sawit) yang tersedia secara melimpah bisa dijadikan sebagai sumber pakan ternak terutama untuk ternak ruminansia (UTomo dan WIDJAJA, 2004) . Kandungan nutrisi solid sawit dapat dilihat pada Tabel 3 . Disamping limbah industri kelapa sawit tersebut, limbah kebun sawit yang cukup potensial bagi produksi ternak adalah pelepah dan daun tanaman sawit yang oleh perusahaan dibuang setiap pemanenan tandan buah sawit . Menurut PAIN (1995) yang disitasi oleh SUDARYANTO, et al, . (1999) kebun sawit dapat menghasilkan limbah pelepah sebesar 10,5 ton/Ha . Limbah kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan tambahan sumber energi dan protein . Harga limbah kelapa sawit umumnya masih relatif sangat murah . Namun dalam pemanfaatannya perlu dicermati kandungan nutrisi dan bentuk fisiknya yang dapat mempengaruhi peman-faatan dan nilai ekonominya, seperti : pelepah/ daun sawit banyak mengandung serat kasar dan lignin No Kandungan nutrisi Jumlah No Jenis asam amino Jumlah (%) 1 . Bahan kering (%) 81,65 -93,14 15 . Aspartat 0,89 2 . Protein kasar(%) 12,63 -17,41 16 . Glutamat 1,00 3 . Lemak kasar (%) 7,12-15,15 17 . Serina 0,50 4 . Serat kasar (%) 9,98-25,79 18 . Glisina 0,01 5 . Energi bruto (kkal/kg) 3217,00 - 3454,00 19 . Histidina 0,10 6 . Ca (%) 0,03-0,78 20 . Arginina 0,20 7 . P (%) 0,00-0,58 21 . Treonina 0,08 8 . Karoten (lU) 109,75 22 . Alanina 0,61 9 . NDF (%) 58,58 23 . Prolina 0,06 10. ADF (%) 53,33 24 . Tirosina 0,42 11 . Hemiselulosa (%) 5,25 25 . Valina 0,43 12 . Selulosa (%) 26,35 26 . Metionina 0,92 13 . Lignin (%) 22,31 27 . Sisteina 0,33 14 . Silika (%) 4,47 28 . Isoleusina 0,51 29 . Leusina 0,31 30 . Fenilalanina 0,37 31 . Lisina 0,40 Seminar Oplimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak (kayu) yang tidak bisa dicerna oleh mikroba dalam rumen ternak. Dalam pemanfaatannya dibutuhkan perlakuan pendahuluan seperti pemisahan kulit dan daging pelepah . Pemisahan daun dengan lidi membutuhkan biaya prosesing . Perubahan bentuk fisik serat menjadi lebih kecil atau menjadi tepung memudahkan dalam proses pencampuran dengan bahan lain dalam formula pakan tambahan (SIANIPAR, et al., 2003) . Hasil penelitian SIANIPAR, et a!. (2003) menunjukkan bahwa produksi limbah perkebunan kelapa sawit secara fisik cukup potensial sebagai sumber pakan ternak (pelepah 486 ton/Ha, daun sawit 17,1 ton/Ha, solid 840 ton/Ha, bungkil inti sawit 567 ton/Ha) . Dikaitkan dengan populasi ternak kambing di Indonesia sekarang ini (13 .065 .700 ekor) dapat ditingkatkan kapasitas tampung pakan sebesar 33,1 kali lipat dari populasi yang ada sekarang. Namun perlu dicermati bahwa jenis limbah pelepah dan daun sawit secara teknis dalam pemanfaatannya tidak efisien karena kandungan proteinnya relatif rendah serta harus terlebih dahulu mengalami perlakuan (merubah bentuk fisik) . Bahan ini tidak dapat diberikan secara tunggal karena kurang disukai ternak . Limbah akan termanfaatkan bila digunakan sebagai komponen pakan komplet agar dapat dikonsumsi oleh ternak dan secara ekonomi juga produksi limbah sawit tidak efisien karena kandungan nutrisinya terutama protein relatif rendah . Setiap hektar kebun sawit terdapat 120-130 pohon dengan manajemen panen 5,'7 (5 hari/ minggu) maka terdapat sejumlah 26 pohon yang dapat dipangkas dengan jumlah sebanyak 2-3 pelepah per pohon dan rataan produksi pelepah per pohon sebesar 14,8 kg bagian yang dapat digunakan sebagai pakan ternak (daging pelepah). Dalam satu hektar kebun sawit dapat dihasilkan sebanyak 486 ton pelepah kering, 17,1 ton daun sawit kering. Sedangkan dari pabrik kelapa sawit (PKS) dihasilkan limbah sebanyak 840-1260 kg solid decanter, sludge 0,042 ton dan 567 kg PKC (bungkil inti sawit) . Rendemen masing-masing yaitu 4-6% untuk solid decanter, sludge 0,2% dan PKC 45% dari TBS (tndan buah sawit segar) yang diolah . Bila koefisien teknis ini jika dikaitkan dengan luas kebun sawit di Indonesia tahun 2000, maka produksi limbah dan hasil ikutan perkebunan kelapa sawit, yang paling tinggi terdapat di Pulau Sumatera khususnya Provinsi Riau dan Sumatera Utara . Pada usaha ternak sambilan (low input) maka potensi pemanfaatan pelepah tidak feasible (tidak layak) . Namun jika pemanfaatan pelepah dilakukan pada usaha agribisnis (skala komersial/skala besar) maka besar kemungkinannya . Meskipun tingkat keuntungan dari penggunaan pelepah dan daun sawit relatif rendah . Jika diakumulasikan ke dalam skala usaha yang relatif besar, maka keuntungan usaha akan semakin tinggi, dan menjadi layak digunakan sebagai pakan terlebih jika dibandingkan dengan mengandalkan rumput sebagai pakan pokok yang kapasitas tampung ternak per hektar kebun sawit hanya sebesar 2-3 ekor kambing . Dengan penggunaan pelepah dapat menampung 127 ekor kambing per hektar kebun sawit.

Daftar Pustaka :
ARITONANG, D. 1986 . Perkebunan kelapa sawit sebagai sumber pakan ternak di Indonesia . Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian V(4): 93-99.
UTOMO, B. N.dan E. WIDJAJA. 2004 . Limbah padat pengolahan minyak sawit sebagai sumber nutrisi ternak ruminansia . Jurnal Litbang Pertanian 23 (1), Jakarta .
DARNOKO dan E.S . SUTARTA. 2006 . Sinar Tani . Jakarta. DJAENUDIN, D., H.
SIANIPAR J ., L . P . BATUBARA dan A. TARIGAN. 2003 . Analisis potensi ekonomi limbah dan hasil ikutan perkebunan kelapa sawit sebagai pakan kambing potong. Makaah Lokakarya Nasional Kambing Potong .
KETAREN, P.P. 1986 . Bungkil inti sawit dan ampas minyak sawit sebagai pakan ternak. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 8 (4-6): 10-11 .

SINURAT, A.P . 2003 . Pemanfaatan lumpur sawit untuk bahan pakan unggas . Wartazoa Vol . 13 No. 2 .

Kamis, 15 September 2016

Processing by application of heat

1.1             Pengertian Extrusion Bahan pangan
Ekstrusi adalah suatu proses dimana bahan dipaksakan oleh sistem ulir untuk mengalir dalam suatu ruang yang sempit sehingga akan mengalami pencampuran dan pemasakan sekaligus . Teknologi ekstrusi merupakan teknologi yang cukup tua. Pada tahun 1797 di Inggris, Joseph Bramah menciptakan mesin untuk membuat pipa tanpa sambungan yang diperkirakan sebagai mesin ekstrusi pertama. Tidak lama kemudian produk-produk lain seperti sabun, macaroni, dan bahan-bahan bangunan diproses menggunakan mesin yang sama

1.2             Alat yang Digunakan
Ekstruder adalah alat untuk melakukan proses ekstrusi. Ekstruder dapat digunakan untuk menunjukkan beberapa fungsi yang berbeda meliputi pencampuran, pembentukan, puffing, dan pengeringan, bergantung pada model ekstruder dan kondisi proses. Pada mesin ini untuk menggiling dan mencampur bahan digunakan piston yang dioperasikan oleh tangan. Karena keterbatasan proses yang dilakukan ekstruder terdahulu maka ekstruder yang menggunakan ulir (screw) diciptakan untuk kebutuhan industri kabel. Konsep awal yang diketahui mengenai ekstruder ulir tunggal ditemukan di tahun 1873 pada suatu gambar rancangan milik Phoenix Gummiwerke A.G. Sementara ekstruder ulir ganda yang pertama dikembangkan pada tahun 1869 oleh Follows dan Bates di Inggris untuk keperluan industri sosis. Sejak saat itu penggunaan ekstruder bagi pengolahan semakin meningkat.

1.3             Prinsip Kerja
Prinsip penerapannya pada industri makanan umumnya berdasarkan pada gelatinisasi pati, pembentukan kompleks lemak-pati, denaturasi dan teksturisasi protein, pengikatan, reaksi kimia dan biokimia, pengaruh tekanan/penggilingan dan pengembangan. Dewasa ini ekstrusi telah berkembang penerapannya untuk beragam produk yang perlu dimasak/dimatangkan. Salah satu kunci dalam beranekaragamnya hasil produk ekstrusi terletak pada bagian die-nya, dimana dari sinilah bahan akan didorong keluar. Fungsi die dalam pembuatan produksi pasta telah meningkatkan keragaman penggunaannya dalam menghasilkan produk dengan berbagai macam bentuk, kandungan air dan konsistensi.

2.1  Pengertian Dehydration pada bahan pangan
 suatu proses pengeringan dengan panas buatan, dengan menggunakan peralatan/alat-alat pengering.

2.2 Prinsip Dehidrasi pangan
       Menurunkan Aktivitas air yang dapat digunakan oleh mikoorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme, berat dan volume pangan.

2.3 Alat yang Digunakan
      Excalibur food dehydration
      Pengeringan makanan yang sering digunakan terutama untuk buah buahan dan sayur sayuran. Dengan tipe alat pengeringan aliran horizontal

3.1 Pengertian Baking and roasting
      Baking dan Roasting pada dasarnya adalah proses yang sama.
Keduanya sama2 menggunakan udara yang dipanaskan untuk meningkatkan eating quality suatu makanan.
Baking biasanya digunakan untuk makanan berbasis tepung dan buah-buahan.
Roasting digunakan untuk daging, kacang (biji-bijian), dan sayuran.

3.2 Pinsip Baking and Roasting
      Mencakup proses transfer panas dan transfer massa.
Panas ditransfer ke makanan dari udara dan permukaan panas di dalam oven.
Air ditransfer dari makanan ke udara sekitar, kemudian dipindahkan dari oven.
Di dalam oven, panas ditransfer dengan kombinasi radiasi (radiasi infrared dari dinding oven), konveksi (dari sirkulasi udara), dan konduksi (melalui pan / nampan dimana makanan diletakkan. Radiasi infrared diserap ke makanan dan diubah menjadi panas.
Udara dan uap air di dalam oven mentransfer panas secara konveksi.
Panas diubah menjadi panas konduktiv pada permukaan bahan pangan.
Panas melewati makanan secara konduksi pada sebagian besar kasus, meskipun konveksi terjadi pada pemanasan awal

3.2  Alat yang  digunakan
     


Selasa, 07 Juni 2016

LKMM pra-TD UISI 2016


LKMM pra-TD UISI 2016
LKMM adalah kepanjangan dari Latihan ketrampilan managemen mahasiswa. Pra-TD adalah pra tingkat dasar dimana kita diajarkan bagaimana memanage diri sendiri.
LKMM pra-TD UISI 2016 memberikan begitu banyak ilmu dan pengalaman . Nah aku mengikuti LKMM pra-TD gelombang 3 pada tanggal 4-5juni.
Disana kita diajarkan banyak hal dan banyak materi oleh kakak panitia dan kakak trainer .
Di hari pertama tgl 4 juni 2016 kita diwajibkan memakai batik dbawahan gelap dan jas almamater UISI dan pada hari itu ada 5 materi yang harus kita dengarkan dan pahami, diantaranya yaitu :
1. Persepsi yang d bawakan oleh kak via .
2. Berpikir kritis yang dibawakan oleh kak faricha dan kak phita
3. Mendengar aktif yang dibawakan oleh kak yudha dan kak kosada
4. Berbicara efektif dibawakan oleh kak noni dan kak kiki
Dan yang terakhir materi ke 5 yaitu AKU (Ambisi, Kenyataan, Usaha) yang dibawakan oleh kak boyan.
5 materi ini gasemuanya bisa aku pahami dengan baik , karena faktor lelah dan ngantuk serta agak boring . Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore aktivitas kita hanya duduk dan mendengarkan ya bisa dbilang kita duduk di kursi itu selama 8,5 jam dan sisanya untuk ishoma . Ada sih ice breaking tapi itupun mungkin cuma 20 menit berdirinya . Awalnya sih ngantuk banget dengerin materi dan cuma nyatet2 tapi pas udah ishoma rasa ngntuknya uda lunayan ilang dan bisa ngikutin dengan baik lagi tnpa rasa kantuk
Di lanjutin hari kedua nih , tanggal 5 juni 2016 . Kita diwajibkan memakai atasan hem putih dan bawahan hitam . Dan untuk materi sisanya tinggal 4 materi tapi pulangnya ttep sama jam 5 sore
Materi nya diantaranya yaitu :
6. SRK (Sasaran, Risiko, Konsekuensi)
  Materi yang pertama di hari ke Dua ini disampaikan oleh kak Paramita yang mempresentasikan S.R.K. (Sasaran, Risiko, Konsekuensi).
7. Pengenalan diri yang disampaikan oleh kak fridi
8. Pengembangan diri yang disampaikan oleh kak nia
Dan materi yang terakhir di LKMM pra-TD UISI 2016 ini yaitu pribadi dan organisasi yang d sampaikan oleh kak mia dan kak nisa .
Anehnya dan senengnya , Di hari kedua ini gaada rasa ngntuk sm sekali .
Mungkin karena jadi terbiasa duduk selama 8,5 jam
Dan senengnya lagi akhirnya gelombang 3 telah menyelesaikan materi LKMM pra-TD UISI 2016
Super duper lega bangetttt . Eits tapi pas materinya uda abis kita ga dbolehin lgsg pulang tapi harus menjalankan post test terlebih dahulu untuk mengetes kemampuan para mahasiswa dan trnyata hasil testnya lebih baik daripda sebelumnya yaitu pas waktu pre-test . Itu tandanya para mahasiswa udah lumayan paham nih sm materi2 yg d sampaikan sm kakak2 trainer .
Gak sampai situ aja , sebelum kita meninggalkan ruangan, kita dipertunjukkan sebuah video da trnyata videonya  menampilkan pose foto tingkah laku para peserta dan panitia yang lucu dan konyol, dan Alhamdullilah nya saya hanya nongol sedikit pas d bagian nyanyiin mars uisi aja .
Setelah itu lanjut dengan foto bersama semua peserta dan panitia.
Dan alhamdulillah lagi akhirnya kita (gelombang 3) telah menyelesaikan kewajiban kita untuk mengikuti LKMM pra-TD UISI 2016. 

Senin, 23 Mei 2016

Manajemen teknis

Manajemen teknik adalah bentuk spesialisasi dari ilmu manajemen yang fokus pada aplikasi di bidang teknik, yang pada umumnya untuk urusan bisnis. Manajemen teknik adalah karier yang menyatukan kaidah penyelesaian masalah teknologi dan kemampuan organisasi, administratif, dan perencanaan dari ilmu manajemen.[1]
Contoh bidang keteknikan yang melibatkan manajemen teknik adalah pengembangan produkmanufakturkonstruksiteknik desainteknik industri, dan bidang lain yang mempekerjakan banyak insinyur dari berbagai bidang.
Manajer teknik yang terampil akan membutuhkan pelatihan dan pengalaman di bidang bisnis dan keteknikan. Manajer yang kurang pemahaman terhadap ilmu teknik akan kesulitan mendayagunakan dan memanfaatkan peran tim teknisnya, dan manajer yang kurang pengalaman di bidang bisnis akan kesulitan dalam mencocokkan kebutuhanpasar dan memasarkan produk dan jasa. Secara umum, manajer teknik mengatur para insinyur yang seringkali bergerak tanpa pemikiran entrepreneurship, dan mendayagunakan kemampuan mereka untuk mencapai tujuan bisnis. Insinyur teknik seringkali berubah posisi, seringkali kenaikan jabatan, menjadi manajer teknik ketika sudah bekerja di dalam perusahaan selama beberapa waktu karena sudah mendalami unsur bisnis dan manajemen perusahaan.
Aktifitas Perencanaan Lokasi Usaha :
1. Penentuan lokasi pabrik 
2. perencanaan bangunan pabrik 
3. Penyusunan perlatan pabrik
4. Penerangan, pengaturan suara, dan sirkulasi udara
Tujuan Perencanaan Lokasi Pabrik :
1. agar dapat melayani konsumen dengan baik
2. untuk dapat bahan baku yang baik 
3. untuk mendapatkan tenaga kerja yang baik 
4. untuk keperluan usaha di kemudian hari
Faktor - faktor yang mempengaruhi lokasi pabrik
  • letak pasar
  • bahan baku
  • tenaga kerja
  • transportasi
  • listrik dan air
metode pemilihan lokasi :
1. M. factor racting 
2. M. Analisis nilai Lokal
3. M. Analisis Ekonomi
4. M. Volume Biaya 
5. M. Transparan 


Manajemen Teknologi

Awalnya kebijakan teknologi diarahkan pada teknologi canggih berbasis impor, Akibatnya Industri2 yang berbasis impor semakin berkembang diantaranya industri pesawat terbang, perkapalan dll.

Perkembangan Teknologi  di bidang AgroIndustri dapat berperan dalam :

  • meningkatkan produktivitas dan efisiensi 
  • mengenalkan teknologi baru yang tepat guna
  • memberikan nilai tambah
  • meningkatkan cadangan devisa
- perangkat keras (technoware)
- perangkat manusia ( humanware) 
- perangkat informasi ( Humanware )
- perangkat Organisasi ( Orgaware )

Visi Teknologi adalah Inovasi 
 
Awal -> inovasi teknologi hanya dalam bentuk fisik, seperti penciptaan produk baru
Sekarang -> dapat berarti proses produksi, inovasi organisasi, atau kelembagaan 

Faktor Interal : Struktur Manajemen Teknologi atau kemajuan teknologi
Faktor eksternal : peratura dan kebijakan pemerintah 

Manajemen Limbah (TIP UISI)

Permasalahan limbah dan sampah saat ini merupakan masalah lingkungan hidup yang belum dapat terpecahkan. Sampah menjadi limbah yang tidak pernah berhenti di produksi oleh manusia. Masalah limbah dan sampah merupakan suatu hal yang dipandang sangat tidak berharga, terutama dikalangan masyarakat. Menurut mereka limbah dan sampah hanyalah limbah dan sampah semata, tidak memiliki harga. Pemikiran serta kesadaran masyarakat yang masih kurang membuat masalah limbah dan sampah selalu datang. Seperti terjadinya banjir, kualitas air yang kurang baik, dan lain-lain. Jika kita perhatikan disekeliling kita, banyak hal yang kelihatannya sepele, tetapi tanpa sadar itu merupakan hal yang berdanpak besar.
Limbah dan sampah sudah menjadi masalah yang serius dan tidak henti-hentinya dibicarakan, hanya saja kesadaran masyarakat yang masih belum ada. Padahal jika dilihat dari sisi positifnya, limbah dan sampah memiliki banyak manfaat.
Perbedaan antara sampah dengan limbah
Kedua istilah tersebut pada dasarnya merupakan sisa bahan buangan yang tidak digunakan lagi, walaupun masih dapat diproses untuk kegunaan lain. Pengertian sampah terbatas pada sampah padat terdiri dari sampah  organik yang dapat diproses secara alami dan sampah anorganik yang tidak dapat dimusnahkan. Sedangkan limbah merupakan bahan buangan  yang dalam prosesnya menggunakan air . Kedua bentuk buangan baik sampah padat maupun limbah cair yang bersumber dari lingkungan masyarakat secara umum disebut dengan istilahlimbah domestik. Pengertian limbah domestik adalah bahan buangan yang bersumber dari lingkungan masyarakat, dimana bentuk dan komposisinya dapat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungannya.
Jika diperhatikan, limbah dan sampah berasal dari berbagai macam kalangan, Selain itu limbah dan sampah juga terdiri dari berbagai jenis, sehingga limbah dan sampah sulit diatasi. Berdasarkan sumbernya, limbah domestik bisa berasal dari permukiman penduduk, lingkungan perkantoran, pertokoan dan pasar, maupun industri. Berdasarkan kandungan zat kimianya limbah domestik dibedakan menjadi dua, yaitu: (a) anorganik, seperti misalnya plastik, logam-logam, pecahan gelas dan abu, dan (b) organik seperti sisa makanan, kertas, dedaunan, sisa makanan buah dan sayur. Dan berdasarkan mudah tidaknya dibakar, juga dibedakan menjadi dua, yaitu: (a) mudah dibakar (kertas, karet, plastik, kain dan kayu), dan (b) tidak mudah dibakar (kaca, kaleng)
LIMBAH
Apabila tumpukan sampah tidak cepat dikelola, maka sampah akan berubah menjadi limbah, karena tumpukan sampah terkena dengan air. Selain berasal dari sampah. limbah juga bisa berasal dari kegiatan industri. Jenis limbah ini sukar atau tidak dapat dinetralisir secara ilmiah dan limbah ini sangat berbahaya dan beracun jika mencemari perairan. Dikatakan berbahaya dan beracun karena limbah mengandung bahan berbahaya atau beracun yang dapat merusak dan mencemari lingkungan serta bisa membahayakan kesehatan manusia. Pengelolaan limbah berbahaya dan beracun merupakan rangkaian yang mencakup pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan limbah, serta penimbunan hasil pengolahan tersebut.
Pengelolaan limbah membutuhkan biaya besar karena didalam proses pengelolaannya diperlukan peralatan dan teknologi yang canggih. Di Indonesia setiap industri yang menghasilkan limbah tidak perlu membangun unit pengelolaan limbah karena tidak ekonomis dan efisien. Akan tetapi limbah dikumpulkan dan disimpan dengan baik sehingga aman bagi lingkungan. Setelah jumlahnya cukup, dikirim ke perusahaan yang khusus  mengelola limbah. Limbah dapat dimanfaatkan dengan cara: (a) penggunaan kembali (reuse) yaitu pemanfaatan limbah dengan dengan jalan menggunakannya kembali untuk kepentingan yang sama,tanpa mengalami pengolahan, (b) daur ulang (recycle) yaitu pemanfaatan limbah melalui pengolahan fisik atau kimiawi, contohnya kertas bekas diolah kembali menjadi kertas baru atau benda lain, dan (c) tukar-menukar limbah (waste material exchange) yaitu upaya pemanfaatan limbah dengan jalan tukar-menukar atau membeli dan menjual limbah. Hal ini saling menguntungkan karena yang menghasilkan limbah dapat mengurangi biaya pengelolaan, sedangkan pengguna limbah mendapatkan bahan mentahnya.
Menurut Higgins (1989) dalam Djayadiningrat (1996), meminimalisasi limbah dapat dilakukan dengan cara: Mengolah cara pembelian dan pengendalian bahan, memperbaiki pelaksanaan house keeping, mengubah cara-cara produksi, penggantian bahan dengan bahan yang kurang daya racunnya, mengurangi volume aliran air, dan  pemisahan limbah. Pengelolaan limbah dengan sampah hampir sama karena limbah berasal dari sampah, hanya saja pengelolaan limbah lebih sulit karena limbah sudah tercampur, sehingga sulit melakukan pemisahan antara sampah yang masih bermanfaat dengan sampah yang tidak bermanfaat.
SAMPAH
Sampah merupakan suatu benda yang tidak digunakan dan harus dibuang. Apabila tidak dikelola akan menyebabkan pencemaran lingkungan serta menimbulkan penyakit.
Buruknya perilaku masyarakat
Mengubah kebiasaan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat memang sulit. Buktinya masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan, kriteria sehatnya suatu kota maupun desa tergantung pada sampah. Kalau sampah masih berserakan di mana-mana, pertanda kawasan itu belum sehat. Banyaknya sampah akan mendatangkan berbagai kuman sumber penyakit. Sampah juga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan. Oleh sebab itu kepedulian dan kesadaran terhadap sampah ini harus ditumbuhkan supaya lingkungan tetap sehat dan bersih dari tumpukan sampah.
Usaha-usaha untuk meminimalisasi masalah sampah.
Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemerosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat. Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah (Wikipedia bahasa Indonesia, 2010).
Pengelolaan sampah merupakan proses yang perlu dilakukan dengan tujuan: mengubah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis, mengelola sampah agar menjadi sesuatu yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Manfaat pengelolaan sampah: penghematan sumber daya alam, penghematan energi, penghematan lahan TPA, lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman). Bencana sampah yang tidak dikelola dengan baik: longsor tumpukan sampah, sumber penyakit, pencemaran lingkungan.
Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan cara:
  1. Penimbunan adalah Pembuangan sampah pada penimbunan darat atau TPA termasuk menguburnya untuk membuang sampah, usaha ini adalah usaha yang kerap kali dilakukan. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan, lubang bekas pertambangan, atau lubang-lubang dalam. Penimbunan darat yang di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau sampah, menjadi sumber penyakit, dan adanya genangan air sampah.
  2. Pengkomposan merupakan pemanfaatan sampah organik menjadi bahan kompos. Untuk tujuan pengomposan, sampah organik dan sampah anorganik harus dipisahkan. Sampah anorganik didaur ulang. Sampah organik sangat baik sebagai bahan kompos. Pengomposan dilakukan ditempat yang jauh dengan pemukiman, proses pengomposan tidak berdanpak negatif terhadap lingkungan, jika tempat pengomposan ditutup dengan plastik atau bahan penutup lainnya. Kompos selain digunakan sebagai pupuk tanaman, juga meningkatkan bahan organik di dalam tanah, yang fungsinya sebagai unsur hara, menggemburkan tanah, dan lain-lain.
  3. Daur ulang adalah mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Yang menjadi masalah adalah daur ulang sampah plastik, sampah plastik selama ini benar-benar hanya dilihat sebagai sampah semata. Hampir-hampir tidak ada yang bisa melihat sisi positifnya, bahkan pemulung pun enggan mengumpulkannya. Padahal sampah plastik ini bisa didaur ulang menjadi bahan baku pembuatan plastik. Permintaan terhadap bahan baku ini pun sangat besar sehingga pabrik pembuatan plastik sering kehabisan bahan baku. Belum lagi kalau dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerjanya. Dalam bisnis ini banyak pihak yang bisa terlibat di dalamnya. Misalnya pemulung, penampung, bandar sampah plastik bekas, maupun pemasok ke perusahaan daur ulang sampah plastik. Di dalam perusahaan atau pabrik daur ulang sampah plastik sendiri banyak menampung tenaga kerja mulai dari  tenaga sortir plastik, tenaga giling, tukang pres,  tukang jemur, tenaga pengepakan sampai staf administrasi dan keuangan, mereka semua mendapatkan upah yang cukup lumayan dan memadai untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari. Usaha daur ulang plastik juga sangat berperan dalam membantu dan memelihara kebersihan lingkungan.
Masalah limbah dan sampah sudah sempantasnya  ditangani yaitu dimulai dari kesadaran dalam diri masing-masing, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling utama, tanpa ada kesadaran semua hal yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Usaha yang dilakukan untuk membangun  kesadaran masyarakat yaitu mulai dari sosialisasi terhadap masyarakat itu sendiri.
Masalah persampahan tampaknya bukan hal yang sederhana, karena sepanjang ada kehidupan manusia permasalahan tersebut akan selalu timbul.  Walaupun kebijakan persampahan telah tersedia, ditambah dengan  pendanannya baik yang bersumber dari APBD tampaknya belum merupakan jaminan mantapnya pengelolaan sampah, apabila kesadaran masyarakat tidak dibangun.
Hal tersebut mengingat bahwa keberhasilan penanganan sampah sangat ditentukan oleh ”niat kesungguhan masyarakat” yang secara sadar peduli untuk menanganinya.  Atas dasar itulah pentingnya sosialisasi penyadaran masyarakat baik melalui jalur formal maupun informal yang antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:.
  1. Penyadaran formal, diberikan kepada generasi muda di sekolah (SD, SLTP, dan SLTA) melalui pemantapan kegiatan ”Krida” mingguan.
  2. Penyadaran informal, diberikan kepada masyarakat dalam kaitannya penanganan sampah berbasis kesehatan lingkungan, untuk itu perlunya: (a) penyadaran masyarakat, untuk menghargai terhadap alam lingkungannya, agar tidak lagi membuang limbah domestik (sampah padat dan limbah cair)  bukan pada tempatnya, dan (b) masyarakat hendaknya mulai sadar dan mulai untuk memilah-milah sampah berdasarkan jenisnya, guna menghindari sumber-sumber penyakit (Waryono, 2008).
Kesadaran masyarakat yang tinggi sangat diperlukan, berikut ini merupakan salah satu contoh orang  yang memiliki kesadaran yang sangat tinggi mengenai permasalahan sampah. Birch datang ke Lombok sebagai turis, lalu dia mengabdi memunguti sampah selama 24 tahun.
VIVAnews – Luar biasa yang dilakukan Gavin Birch, turis asal Perth Australia. Tanpa pamrih, selama  24 tahun dia membersihkan sampah di Pantai Senggigi, Lombok Barat. Bahkan, lelaki berusia 68 tahun yang kini telah berganti menjadi Khusen Abdullah, dikenal sebagai turis pemulung di Senggigi. Sejumlah warga Lombok  menyebut dirinya dengan ‘turis gila’, karena pekerjaannya yang bergumul dengan sampah. Meski demikian, Khusen tidak peduli dengan penilaian orang. Yang jelas dia yakin dengan perjuangannya untuk mengajak orang hidup bersih. “Whatever. Saya hanya ingin mengajak hidup bersih melalui program ‘Indonesia Bersih dan Hijau’, “kata  Birch alias Khusen yang ditemui VIVAnews di Senggigi, Lombok Barat, Kamis 11 Februari 2010.
Suatu usaha yang patut di contoh oleh kita sebagai warga dalam negeri. Usaha yang dilakukan oleh Gavin birch yang bukan asli negara Indonesia mengajak kita warga asli Indonesia untuk hidup bersih, sungguh tidak disangka. Seharusnya kitalah yang harus mempelopori kegiatan seperti ini.
Kita dapat melakukan hal diatas yaitu dengan melakukan pemisahan antara sampah organik dengan sampah anorganik. .Hal ini merupakan usaha kita untuk membantu usaha pemerintah, selain itu kita bisa memperoleh upah. Seperti halnya pemulung. Mereka memungut sampah karena itu merupakan sumber penghasilan,  tetapi tanpa sadar mereka juga membantu pemerintah dalam meminimalisasi masalah sampah. Suatu usaha yang menguntungkan bukan?
Selain usaha pengelolaan, usaha yang perlu dilakukan oleh pemerintah yaitu mengeluarkan kebijakan yang mengatur masalah persampahan. Walaupun sudah ada Undang-undang yang mengatur tentang lingkungan hidup yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 maret 1982, akan tetapi undang-undang ini masih belum dilaksanakan secara maksimal atau masih diabaikan, dan sifatnya masih umum, sehingga pemerintah perlu membuat kebijakan yang sifatnya lebih khusus yaitu mengenai masalah sampah dan limbah, dan  perlu adanya ketegasan dalam menjalankan kebijakan ini. Usaha ini perlu dilakukan karena bisa menyadarkan masyarakat, walaupun awalnya terpaksa, tetapi dengan itu akan timbul kebiasaan dan nikmatnya hidup bersih tanpa kekangan sampah dan limbah. Sampah dan limbah memang hal yang sangat memprihatinkan, terutama dinegara kita. Segala usaha telah dilakukan pemerintah, tetapi masalah sampah dan limbah belum bisa terselesaikan sampai dengan detik ini. Sungguh permasalahan yang tidak mempunyai ujung.
Melihat keadaan negara sekarang ini, pemerintah juga harus mengambil tindakan yakni dengan meningkatkan usaha penanganan serta membuat organisasi-organisasi  yang menangani masalah limbah dan sampah. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, berbenah dari hal yang kecil, yaitu membuang sampah pada tempatnya, ikut serta dalam segala kegiatan pemerintah adalah usaha masyarakat untuk meminimalisasi masalah limbah dan sampah. selain itu, pemerintah juga perlu memperbanyak pabrik-pabrik yang menangani masalah limbah dan sampah, selain menguntungkan pemerintah, juga menguntungkan masyarakat, karena usaha itu bisa menciptakan lapangan kerja.

Management Sumber Daya Manusia

PENGERTIAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

A. PENGERTIAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah
pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat
menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Bagian atau unit yang biasanya mengurusi sdm adalah departemen sumber daya manusia atau
dalam bahasa inggris disebut HRD atau human resource department. Menurut A.F. Stoner
manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan
untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk
ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya.

Manajemen sumber daya manusia juga menyangkut desain sistem perencanaan,
penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja,
kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik. Manajemen sumber daya
manusia melibatkan semua keputusan dan praktik manajemen yang memengaruhi secara
langsung sumber daya manusianya.

Berikut ini adalah pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) menurut para ahli:

1. Menurut Melayu SP. Hasibuan.

MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan
efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.

2. Menurut Henry Simamora

MSDM adalah sebagai pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balasan jasa
dan pengelolaan terhadap individu anggota organisasi atau kelompok bekerja.
MSDM juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan
personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi karyawan
dan hubungan perburuhan yang mulus.

3. Menurut Achmad S. Rucky

MSDM adalah penerapan secara tepat dan efektif dalam proses akusis, pendayagunaan,
pengemebangan dan pemeliharaan personil yang dimiliki sebuah organisasi secara efektif
untuk mencapai tingkat pendayagunaan sumber daya manusia yang optimal oleh organisasi
tersebut dalam mencapai tujuan-tujuannya.

4. Menurut Mutiara S. Panggabean

MSDM adalah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pimpinan dan
pengendalian kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, evaluasi pekerjaan,
pengadaan, pengembngan, kompensasi, promosi dan pemutusan hubungan kerja guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dari definisi di atas, menurut Mutiara S. Panggabaean bahwa, kegiatan di bidang sumber
daya manusia dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sisi pekerjaan dan dari sisi
pekerja.

Dari sisi pekerjaan terdiri dari analisis dan evaluasi pekerjaan. Sedangkan dari sisi pekerja
meliputi kegiatan-kegiatan pengadaan tenaga kerja, penilaian prestasi kerja, pelatihan dan
pengembangan, promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja.

Dengan definisi di atas yang dikemukakan oleh para ahli tersebut menunjukan demikian
pentingnya manajemen sumber daya manusia di dalam mencapai tujuan perusahaan,
karyawan dan masyarakat.Unsur manajemen (Tool of management), biasa dikenalMarket/
marketing, pasar

B. Model Manajemen Sumber Daya Manusia

Di dalam memahami berbagai permasalahan pada manajelen sumber daya manusia
dan sekaligus dapat menentukan cara pemecahannya perlu diketahui lebih dahulu model-
model yang digunakan oleh perusahaan kecil tidak bias menerapkan model yang biasa
digunakan oleh perusahaan besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam perkembangan model-
model ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi serta tuntutannya.
Untuk menyusun berbagai aktifitas manajemen sumber daya manusia ada 6 (enam) model
manajemen sumber daya manusia yaitu:

1. Model Klerikal

Dalam model ini fungsi departemen sumber daya manusia yang terutama adalah memperoleh
dan memelihara laporan, data, catatan-catatan dan melaksanakan tugas-tugas rutin. Fungsi
departemen sumber daya manusia menangani kertas kerja yang dibutuhkan, memenuhi
berbagai peraturan dan melaksanakan tugas-tugas kepegawaian rutin.

2. Model Hukum

Dalam model ini, operasi sumber daya manusia memperoleh kekutannya dari keahlian

di bidang hukum. Aspek hukum memiliki sejarah panjang yang berawal dari hubungan
perburuhan, di masa negosiasi kontrak, pengawasan dan kepatuhan merupakan fungsi pokok
disebabkan adanya hubungan yang sering bertentangan antara manajer dengan karyawan.

3. Model Finansial

Aspek pinansial manajemen sumber daya manusia belakangna ini semakin berkembang
karena para manajer semakin sadar akan pengaruh yang besar dari sumber daya manusia
ini meliputi biaya kompensasi tidak langsung seperti biaya asuransi kesehatan, pension,
asuransi jiwa, liburan dan sebagainya, kebutuhan akan keahlian dalam mengelola bidang
yang semakin komplek ini merupakan penyebab utama mengapa para manajer sumber daya
manusia semakin meningkat.

4. Model Manjerial

Model manajerial ini memiliki dua versi yaitu versi pertama manajer sumber daya manusia
memahami kerangka acuan kerja manajer lini yang berorientasi pada produktivitas. Versi
kedua manajer ini melaksanakan beberpa fungsi sumber daya manusia.
Departemen sumber daya manusia melatih manajer lini jdalam keahlian yang diperlukan
untuk menangani fungsi-fungsi kunci sumber daya manusia seperti pengangkatan, evaluasi
kinerja dan pengembangan. Karena karyawan pada umumnya lebih senang berinteraksi
dengan manajer mereka sendiri disbanding dengan pegawai staf, maka beberapa departemen
sumber daya manusia dapat menunjukan manajer lini untuk berperan sebagai pelatih dan
fsilitator.

5. Model Humanistik

Ide sentral dalam model ini adalah bahwa, departemen sumber daya manusia dibentuk untuk
mengembangkan dan membantu perkembangan nilai dan potensi sumber daya manusia di
dalam organisasi. Spesialis sumber daya manusia harus memahami individu karyawan dan
membantunya memaksimalkan pengembangan diri dan peningkatan karir.
Model ini menggabarkan tumbuhnya perhatian organisasi terhadap pelatihan dan
pengembangan karyawan mereka.

6. Model Ilmu Perilaku

Model ini menganggap bahwa, ilmu perilaku seperti psikologi dan perilaku organisasi
merupakan dasar aktivitas sumber daya manusia. Prinsipnya adlah bahwa sebuah pendekatan
sains terhadap perilaku manusia dapa diterpkan pada hampir semua permasalahan sumber
daya manusia bidang sumber daya manusias yang didasarkan pada prinsip sains meliputi
teknik umpan balik, evaluasi, desain program dan tujuan pelatihan serta manajemen karir.

C. Fungsi manajemen

1. Perencanaan

Perencanaan adalah usaha sadar dalam pengambilan keputusan yang telah diperhitungkan
secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa depan dalam dan oleh suatu
organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah dilakukan sebelumnya.

2. Rekrutmen

Menurut Schermerhorn, 1997 Rekrutmen (Recruitment) adalah proses penarikan sekelompok
kandidat untuk mengisi posisi yang lowong. Perekrutan yang efektif akan membawa peluang
pekerjaan kepada perhatian dari orang-orang yang berkemampuan dan keterampilannya
memenuhi spesifikasi pekerjaan.

3. Seleksi

Seleksi tenaga kerja adalah suatu proses menemukan tenaga kerja yang tepat dari sekian
banyak kandidat atau calon yang ada. Tahap awal yang perlu dilakukan setelah menerima
berkas lamaran adalah melihat daftar riwayat hidup / cv / curriculum vittae milik pelamar.
Kemudian dari cv pelamar dilakukan penyortiran antara pelamar yang akan dipanggil dengan
yang gagal memenuhi standar suatu pekerjaan. Lalu berikutnya adalah memanggil kandidat
terpilih untuk dilakukan ujian test tertulis, wawancara kerja / interview dan proses seleksi
lainnya.

4. Orientasi, Pelatihan dan Pengembangan

Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan
perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja tenga
kera.(Simamora:2006:273). Menurut pasal I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003.
Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan,
serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada
tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan
pekerjaan.

Pengembangan (development) diartikan sebagai penyiapan individu untuk memikul
tanggung jawab yang berbeda atau yang Iebih tinggi dalam perusahaan, organisasi, lembaga
atau instansi pendidikan,

Menurut (Hani Handoko:2001:104) pengertian latihan dan pengembangan adalah
berbeda. Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagal
ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin. Yaitu latihan
rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang.
Sedangkan pengembangan (Developrnent) mempunyai ruang lingkup Iebih luas dalam upaya
untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dlan sifat-sifat
kepribadian.

5. Evalauasi Kinerja

Evaluasi sama pentingnya dengan fungsi-fungsi manajemen lainnya, yaitu
perencanaan, pengorganisasian atau pelaksanaan, pemantauan (monitoring) dan
pengendalian. Terkadang fungsi monitoring dan fungsi evaluasi, sulit untuk dipisahkan.
Penyusunan sistem dalam organisasi dan pembagian tugas, fungsi serta pembagian peran
pihak-pihak dalam organisasi, adakalanya tidak perlu dipisah-pisah secara nyata. Fungsi
manajemen puncak misalnya, meliputi semua fungsi dari perencanaan sampai pengendalian.
Oleh karena itu, evaluasi sering dilakukan oleh pimpinan organisasi dalam suatu rapat kerja,
rapat pimpinan, atau temu muka, baik secara reguler maupun dalam menghadapi kejadian-
kejadian khusus lainnya.

Sebagai bagian dari fungsi manajemen, fungsi evaluasi tidaklah berdiri sendiri.
Fungsi-fungsi seperti fungsi pemantauan dan pelaporan sangat erat hubungannya dengan
fungsi evaluasi. Di samping untuk melengkapi berbagai fungsi di dalam fungsi-fungsi

manajemen, evaluasi sangat bermanfaat agar organisasi tidak mengulangi kesalahan yang
sama setiap kali.

6. Komensasi

Pmberian balas jasa langsung dan tidak langsung berbentuk uang atau barang kepada
karyawan sebagai imbal jasa( output) yang diberikannya kepada perusahaan. Prinsip
Kompensasi adalah adil dan layak sesuai prestasi dan tanggung jawab.

7. Pengintegrasian

Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, sehingga
tercipta kerjasama yang serasi da saling menguntungkan.

8. Pemeliharaan

Kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan
agar tercipta kerjasama yang panjang.

9. Pemberhentian

Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang
mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antar pekerja dan pengusaha.
Sedangkan menurut Moekijat mengartikan bahwa Pemberhentian adalah pemutusan
hubungan kerjas seseorang karyawan dengan suatu organisasi perusahaan.

D. 4 (Empat) tujuan manajemen SDM adalah sebagai berikut:

a. Tujuan Sosial

Tujuan sosial manajemen sumber daya manusia adalah agar organisasi atau
perusahaan bertanggungjawab secara sosial dan etis terhadap keutuhan dan tantangan
masyarakat dengan meminimalkan dampak negatifnya.

b. Tujuan Organisasional

Tujuan organisasional adalah sasaran formal yang dibuat untuk membantu organisasi
mencapai tujuannya.

c. Tujuan Fungsional

Tujuan fungsional adalah tujuan untuk mempertahankan kontribusi departemen
sumber daya manusia pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

d. Tujuan Individual

Tujuan individual adalah tujuan pribadi dari tiap anggota organisasi atau perusahaan
yang hendak mencapai melalui aktivitasnya dalam organisasi.